Wednesday, 9 July 2014

[Fan Fiction] Our Last Story

*NB : Cerita ini hanya fiktif belaka, yang hanya ditulis oleh seseorang yang berfandom Nerd Fighter dan Intitiates. Yang sangat menyukai Caleb Prior, Augustus Waters, FourTris, Sheo, HaGustus dan Shansel.. Harap maklum jika alur cerita cukup aneh -.- karena ini hanya sekedar ide belaka. Ini sambungan Novel Divergent dan The Fault In Our Stars karya fans nya ^^ Selamat membaca dan Terimakasih ^^



Our Last Story


Language : Indonesia
Author : Andreiya Eliata
Inspiration : TFIOS, Divergent, @Nisa_dindanisa 
Cast :

  • Shailene Woodley as Hazel Grace Lancaster (Narator) 
  • Theo James as Tobias Eaton / Four
  • Ansel Elgort as Caleb Prior
  • Natt Wolff as Isaac
  • Zoë Kravitz as Christina
  • Miles Teller as Peter Hayes
  • Anna Sophia-Robb as Cara





Chapter One


Awal di Akhir Kisah Kami



Aku tetap terbaring di rumput basah ini sembari memandangi bintang-bintang. Aku masih memikirkan isi surat yang ditulis Augustus Waters untuk ku. Anehnya, mengapa ia memberikan suratnya melalui si penulis gila, Peter Van Houten?? Penulis yang awalnya kusuka lalu kubenci itu. Sungguh aku tak menyangka ternyata sikap asli Van Houten sangat sangat menjengkelkan. Dia membuat ku jatuh cinta dengan bukunya itu dan dia juga membuat ku patah hati dengan sikapnya itu. (Sungguh kisah cinta dengan penulis yang tragis)



Aku memperbaiki letak kanula ku, pandangan ku tetap tertuju pada langit malam yang begitu cerah. Bagaimana mungkin bintang-bintang tetap ada disaat hari yang menyedihkan ini datang?? Aku hampir tertidur diluar hingga Mom memanggilku.


"Hazel!! Ayo masuk kedalam rumah!! Nanti kau kedinginan." ucap Mom gelisah. Aku hanya mengangguk. Aku menarik Philips yang dari tadi menemaniku. Aku dan Philips memang tak bisa dipisahkan. Bagaikan dua lubang hidung yang tidak bisa dipisah. Kami hanya berpisah saat aku tidur. Tanpa Philips mungkin paru-paru ku akan menyiksa ku kembali lalu aku akan terbang menyusul Gus di tempatnya berada sekarang.

Aku masuk kedalam rumah lalu bergabung dengan Mom dan Dad yang sedang duduk di Sofa ruang keluarga untuk menonton acara TV kegemaran kami. Aku menghempaskan tubuh di sofa dan duduk ditengah-tengah Mom dan Dad. Mata Dad tetap terpaku pada layar Televisi menonton acara American’s Next Top Model. Sejak kapan Dad suka menonton ANTM?? Setahu ku Dad tidak menyukai acara seperti itu.

"Mom," panggilku

"Iya sayang, ada apa??" tanya Mom padaku

"Sejak kapan Dad suka menonton ANTM??? Apa ada yang salah dengan Dad?? Apa jangan-jangan Dad yang kita kenal telah menghilang???" Mom tertawa mendengar perkataanku.

"Entahlah Hazel. Mom juga tak tahu mengapa Dad sekarang sangat menyukai ANTM." Mom menaikkan kedua alisnya

"Hey, tahukah kalian?? selama kalian pergi ke Belanda bersama Gus, Dad menghabiskan waktu Dad untuk menonton acara Tv ini." ucap Dad yang akhirnya bicara. Aku tertawa mendengar ucapan Dad.

"Jadi, selama ini Dad menonton ANTM secara diam-diam???" ucap Mom kaget. Mulut Mom terbuka lebar tak percaya.

"Hey, aku tak bilang diam-diam. Kan aku sudah beritahu kan pada kalian." Ucap Dad tertawa. Kami pun tertawa bersama-sama. Entah kenapa bagiku sangat berat untuk tertawa disaat yang seperti ini.

“Sepertinya, aku lebih baik masuk kedalam kamarku. Bye Mom, Dad!” aku pun bangkit dari sofa dan berjalan pergi.

***

          
Aku menjalani hari-hari ku dengan sangat membosankan. Seperti biasa aku harus menjalani segala pengobatan dan meminum Phalanxifor agar sel kanker yang bodoh itu bisa hilang dari tubuh ku ini. Mom mulai menyimpulkan kembali kalau aku Depresi. Aku memang kembali kerutinitas ku yang dulu lagi, jarang keluar rumah, menghabiskan cukup banyak waktu ditempat tidur, jarang makan, membaca buku yang sama kembali (Namun buku ini bukan buku karya penulis bodoh Van Houten yang bejudul Kemalangan Yang Luar Biasa melainkan buku penuh pertumpahan darah yaitu, Ganjaran Fajar), dan menghabiskan waktu untuk memikirkan Augustus Waters.
          
Namun, aku tetap sering datang ke Grup Pendukung Anak-Anak Penderita Kanker di bawah Gereja dan mulai mendengarkan Patrick membicarakan kanker yang menyerang buah pelirnya itu. Dan satu lagi, Gus tercatat di daftar terakhir anggota yang telah meninggal. Isaac juga masih mengikuti Grup Pendukung ini dan sepertinya ia telah melupakan si “Selalu” nya itu, Monica. Yang paling mengejutkan lagi, ada anggota baru Grup yang sepertinya jatuh hati pada Isaac, namanya Alice.
          
Alice selalu memandangi Isaac disaat kegiatan grup berlangsung (hampir sama dengan kelakuan pertama Gus padaku) dan bodohnya Alice, mengapa ia memandangi Pria yang secara langsung tak bisa mengedipkan mata untuk nya??? Aku sudah memberitahu Isaac tentang Alice dan Isaac hanya berkata “Aku mungkin buta, namun aku tidak tuli dan aku tidak ingin telinga ku yang sehat ini mendengar hal bodoh seperti itu!!”. Sepertinya Isaac tetap membenci kisah cintanya dengan Monica.
          
Mom mulai sibuk bekerja sebagai Pekerja Sosial, memberikan penyuluhan terhadap keluarga-keluarga yang memiliki anak penderita Kanker. Walaupun Mom masih sering berada dirumah,  entah kenapa aku merasa kesepian saat Mom bekerja. Namun, aku tak bisa memberitahu Mom. Kalau aku beri tahu, mungkin Mom akan kembali mengatur-atur ku lagi.

***


  Malam itu Mom baru saja pulang dari pekerjaannya. Ia langsung kedapur dan menyiapkan makan untuk ku. Aku duduk di ruang keluarga dengan tatapan mata kearah layar televisi. Atas konspirasi telur orak-arik ku beberapa minggu yang lalu, Mom mulai memasak telur orak-arik untuk makan malam. Sejujurnya, rasa nya aneh sekali memakan telur orak-arik dimalam hari. Setelah Mom selesai memasak, kami sekeluarga pun makan di meja makan.
          
“Bagaimana hari mu, Hazel??” tanya Mom.
          
“Baik.” Ucap ku singkat. Mom melihat ku dengan tatapan aneh. Sedangkan Dad sibuk dengan telur orak-ariknya.
          
“Emm... Tahukah engkau Hazel??” Mom mulai kembali bicara kepadaku. Namun, aku tetap asyik dengan makananku.
         
“Diatasi karena pekerjaan Mom, Mom harus menjalankan penyuluhan di Chicago. Apa tak masalah bagimu??” Aku mengalihkan pandangan ku ke Mom. Mom tampak gelisah dan kebingungan.
          
“Sungguh?? Benarkah itu?? Apakah Dad juga sudah tahu atas rencana ini??”
         
“Yupp.. Dad sudah tahu.” Dad pun akhirnya mulai bicara.
          
“Woww!!! Itu sangat keren Mom!! Fantastis!!”
         
“Em.. Mom tahu itu memang keren. Tapi, apakah tidak masalah bagimu, Hazel??”
          
“Tak apa, Mom. Aku baik-baik saja ko. Juga mulai minggu ini, aku juga akan sering berkunjung ke rumah Isaac. Aku baik-baik saja Mom. Okay?” Mom menundukan kepalanya. Aku tahu Mom gelisah padaku.
         
“Sebenarnya, Mom ingin mengajak mu ikut ke Chicago untuk beberapa hari. Kau boleh mengajak Isaac ko. Mom sudah menelpon Ibu Isaac dan ia mengizinkannya.” Aku tercengang saat mendengar ucapan Mom. Aku sampai tak percaya.
          
“Sungguh Mom?? Benarkah itu?? Woww!!! Terima kasih Mom!! Tapi, bagaimana dengan Dad??”
          
“Tenang saja. Aku baik-baik saja. Aku akan memesan Pizza untuk makan malam lagi, menonton American’s Next Top Model, makan telur orak-arik untuk sarapan sendiri lagi, dan melakukan hal-hal lainnya dengan SENDIRI. Seperti yang kulakukan saat kalian ke Amsterdam.” Ucap Dad panjang lebar. Kami tertawa saat mendengar ucapan Dad.
          
Aku tak percaya, untuk pertama kalinya aku akan pergi ke Chicago. Itu sungguh menakjubkan. Aku ingat perjalanan terakhir ku yaitu saat aku pergi ke Amsterdam bersama Gus dan Mom.  Tapi sebelum kami pergi ke Chicago, kami harus meminta saran pada Dr. Maria, Dokter spesialisku. Aku tak sabar untuk pergi ke Chicago. (Dan hebatnya, Dr. Maria mengizinkan ku pergi).


-Continue-








*N.B : Terima kasih sudah membaca ^^ Aku harap kalian suka.. Kasih kritik dan saran ya ^^ Okay??

No comments:

Post a Comment