Sunday, 20 July 2014

[Fan Fiction] Our Last Story

*NB : Cerita ini hanya fiktif belaka, yang hanya ditulis oleh seseorang yang berfandom Nerd Fighter dan Intitiates. Yang sangat menyukai Caleb Prior, Augustus Waters, FourTris, Sheo, HaGustus dan Shansel.. Harap maklum jika alur cerita cukup aneh -.- karena ini hanya sekedar ide belaka. Ini sambungan Novel Divergent dan The Fault In Our Stars karya fans nya ^^ Selamat membaca dan Terimakasih ^^



Our Last Story (Chapter 2)



Language : Indonesia
Author : Andreiya Eliata
Inspiration : TFIOS, Divergent, @Nisa_dindanisa 
Cast : 
  • Shailene Woodley as Hazel Grace Lancaster (Narator)
  • Theo James as Tobias Eaton (Four)
  • Ansel Elgort as Caleb Prior
  • Natt Wolff as Isaac
  • Zoë Kravitz as Christina
  • Miles Teller as Peter Hayes
  • Anna Sophia-Robb as Cara



Chapter Two

Kejutan di Chicago


          Kami menempuh jarak 265.25 km untuk bisa sampai di Chicago. Atas teori tidur dapat memerangi kanker, Aku pun menghabiskan waktu untuk tidur sedangkan Isaac dan Mom asyik mengobrol dengan diselingi tawa yang keras dan sebisa mungkin aku berusaha agar suara tawa mereka tak mengganggu proses penyembuhan kanker ku.

          Gedung-gedung pencakar langit di Chicago menyambut kami. Aku dan Mom tercengang saat melihat gedung-gedung tersebut (aku tidak tahu Isaac tercengang atau tidak). Kami segera mengkemasi barang dan segera pergi ke apartemen yang sudah disewa Mom. Mom menyewa apartemen di dekat Millennium Park,  taman kota yang berada di Chicago.

          Millennium Park sangat ramai dikunjungi orang-orang. Mungkin karena itulah, pemerintah Chicago membuat Taman ini sangat luas agar muat untuk banyak orang. Di tengah-tengah Millennium Park terdapat Cloud Gate, bangunan unik yang merupakan ciri khas taman tersebut.

“Itu letak apartemen kita!!” Mom menunjuk gedung apartemen tinggi diseberang Millennium Park. Mom dan aku segera berjalan menjauhi Millennium Park. Saking bersemangatnya, aku meninggalkan Isaac yang sedang mematung kebingungan. Isaac berjalan dengan tongkatnya sembari meraba-raba jalan.

          “Hazel!! Hazel!! Kau dimana?? Hey! Kalau kau bukan perempuan, kau pasti sudah ku pukul dengan tongkat ajaib penuntun jalanku ini. Hazel, jangan tinggalkan aku! Hazel!” Isaac berteriak panik. Aku tidak langsung segera kesana, aku hanya tertawa melihat Isaac. Isaac terlihat sangat konyol.

          Karena sangat kebingungan, aku melihat Isaac menabrak seorang lelaki bertubuh tinggi tegap. Saat aku melihatnya, aku segera berlari menghampiri Isaac.

          “Wooh.. Maafkan aku.” ucap Isaac.
          “Tak masalah bung. Apa aku bisa menolong mu??” ucap lelaki itu.

          “Isaac!! Oh.. maafkan aku, dia temanku.” Ucap ku sembari memegang tangan Isaac dan menuntunnya.

          “Heyy!! Hazel darimana saja kau??? Seharusnya aku melaporkanmu ke polisi karena telah meninggalkan orang buta ditengah keramaian seperti ini.” ucap Isaac marah.

          “Baikah, baiklah. Maafkan aku, okay??” ucapku sambil tertawa. Aku sibuk mengurusi Isaac hingga tak sadar kalau lelaki itu menatap ku terus.

          “Mungkin aku bisa membantu kalian??” ucap lelaki itu sambil tersenyum. Suara lelaki itu terdengar tak asing. Akhirnya, aku memandang lelaki yang dari tadi berdiri didepan ku untuk pertama kalinya. Aku cukup terkejut melihatnya. Rambutnya berwarna coklat gelap (namun tak terlalu gelap) , tubuhnya sangat tinggi , senyumnya cukup untuk membuat semua perempuan meleleh saat melihatnya sama seperti senyum seseorang yang kukenal dan lelaki itu memang Augustus!!!

          “A-A-Augustus?? Eh, maksudku tak apa. Kami tak apa-apa ko.” Ucap ku tergagap. Lelaki itu tersenyum dan aku berani bersumpah kalau senyum nya mirip sekali dengan senyum Augustus.

          “Emm.. okay. Oh ya, namaku Caleb. Caleb Prior.” ucap nya sembari menjulurkan tangannya padaku. Aku terus memandangi lelaki yang seperti Augustus itu. Akhirnya lamunan ku buyar saat mendengar namanya.

          “Eh, Hai Caleb! Namaku Hazel dan ini temanku Isaac. Kami dari Indianapolis.” Aku menyambut jabatan tangan Caleb. Tangan Caleb sangat hangat dan kembali mengingatkan ku dengan Gus. Caleb tersenyum dan memandang ku terus. Perasaan ku saja atau tidak, sepertinya Caleb mengenalku. Caleb terpaku memandangku terus. Mata cokelat Caleb mirip sekali dengan Gus. Aku pun menatap Caleb. Rasanya seperti aku kembali memandang Augustus Waters.

          “Woww.. sepertinya aku dan Isaac harus pergi. Ibuku menunggu di sana. Senang berkenalan denganmu, Caleb.” Aku bergegas meraih tangan Isaac dan menariknya pergi. Aku bisa merasakan kalau Caleb terus memandangi kami (tepatnya aku, sepertinya).

          “Hazel, aku sudah pernah bilang padamu kalau aku tidak tuli kan?” tanya Isaac. Aku mengangguk dan aku baru sadar kalau Isaac tak akan melihat anggukan ku.

          “Iya.. kau selalu mengatakan itu padaku berkali-kali. Untung saja telinga ku tidak tuli karena mendengar itu terus.”

          “Huhh.. ini serius Hazel Grace Lancaster. Didasari karena telinga ku yang masih sehat ini, aku merasa suara pria bernama Caleb itu mirip sekali dengan suara sobat terbaikku, Augustus Waters. Benarkan itu??” Isaac tampak penasaran.

          “Aku juga merasa begitu. Tahu tidak?? Ia sangat mirip dengan Gus. Matanya, rambutnya, tubuhnya, suaranya, dia benar-benar Gus!! Rasanya seperti melihat cinta pertama ku bangkit dari kematian.”

          “Ahh.. andaikan kemarin aku tidak mengusir ilmuan gila yang telah membuatkan mata robot itu. Pasti aku bisa melihat nya. Aku rindu sekali dengan Gus. Hazel, tidak kah kau begitu??” suara Isaac tampak sedih.

          Aku pun mulai terdiam. Segala kenangan tentang Gus kembali datang dibenakku. Rasanya segala kenangan itu bisa membuat nafasku sesak. Aku sangat merindukan segalanya dari Gus. Sikap konyolnya, sikap romantisnya, bahkan aku merindukan sikap metafora nya. Aku sangat merindukan Augustus.

“Iya. Aku sangat merindukannya, Isaac. Aku sangat merindukan Gus.”


-Continue-







*N.B : Terima kasih sudah membaca ^^ Aku harap kalian suka.. Kasih kritik dan saran ya ^^ Okay??

No comments:

Post a Comment