Friday, 1 August 2014

[Fan Fiction] Our Last Story


*NB : Cerita ini hanya fiktif belaka, yang hanya ditulis oleh seseorang yang berfandom Nerd Fighter dan Intitiates. Yang sangat menyukai Caleb Prior, Augustus Waters, FourTris, Sheo, HaGustus dan Shansel.. Harap maklum jika alur cerita cukup aneh -.- karena ini hanya sekedar ide belaka. Ini sambungan Novel Divergent dan The Fault In Our Stars karya fans nya ^^ Selamat membaca dan Terimakasih ^^





Our Last Story (Chapter 3)



Language : Indonesia
Author : Andreiya Eliata
Inspiration : TFIOS, Divergent, @Nisa_dindanisa 
Cast : 
  • Shailene Woodley as Hazel Grace Lancaster
  • Theo James as Tobias Eaton (Four)
  • Ansel Elgort as Caleb Prior
  • Natt Wolff as Isaac
  • Zoë Kravitz as Christina
  • Miles Teller as Peter Hayes
  • Anna Sophia-Robb as Cara




Chapter Three


Awal Pertemuan


Tobias
       
Aku merapikan segala berkas-berkas yang menumpuk dimejaku. Johanna Reyes menyuruhku untuk menyerahkan berkas-berkas itu padanya pada pukul dua siang. Aku melirik jam tanganku, pukul satu lebih dua puluh enam menit. Aku segera menyambar tasku dan bersiap pergi hingga sebuah dering ponsel memberhentikanku.
          
“Tobias!!!” ucap suara diseberang telepon.

“Hallo?? Ada apa Caleb??” Aku bahkan belum sempat mengucapkan kata ‘Hallo’ saat Caleb menelpon.

“Aku punya kabar mengejutkan untukmu!! Apa kau sedang sibuk??” ucap Caleb bersemangat.

Aku melirik jam tanganku, masih kurang tiga puluh menit lagi hingga jam dua siang. “Emm.. tidak. Aku sedang tidak sibuk. Tapi aku hanya punya waktu tiga puluh menit untuk bicara denganmu. Jadi, ayo cepat katakan apa yang ingin kau beritahukan padaku.”

“Okay. Aku tidak bisa bicara lewat telepon jadi kau harus bertemu denganku sekarang di Millennium Park. Cepat datang ya!!”
          
“Caleb, aku tak bisa!” Caleb sudah menutup teleponnya terlebih dahulu sehingga ia tak bisa mendengar protesku. Aku terpaksa menuruti kata-kata Caleb dan segera pergi ke Millennium Park.

***
          
Caleb duduk disebuah bangku taman ditengah-tengah Millennium Park. Ia menyisir rambutnya dengan rapi tradisi faksi Erudite yang masih ia pertahankan. Mungkin ia masih mencintai faksi lamanya itu. Faksi yang telah membunuh keluarganya. Namun, Caleb memakai kaos berwarna abu-abu khas Abnegation dan ia memasang tatapan rendah hati ala orang “Kaku” dari Abnegation. Mungkin aku harus berhenti menyangkut-nyangkutkan faksi lama kami di kehidupan baru tanpa faksi ini. Kehidupan yang telah berubah menjadi lebih baik. Caleb melambaikan tangannya saat melihatku. Aku pun segera berlari kearahnya.
          
“Jadi, apa yang hendak kau katakan padaku, Caleb Prior?? Aku hanya punya waktu kurang lebih dua puluh lima menit untuk bicara denganmu. Jadi ayo cepat katakan.” ucapku sembari duduk disamping Caleb.
          
“Bisakah kau berhenti mengungkit-ungkit tentang waktu?? Aku punya kabar penting untukmu, FOUR.”
          
“Hei! Jangan memanggilku dengan panggilan itu lagi. Kalau kau memanggilku dengan panggilan itu lagi, aku akan,”
          
“Akan apa? Hah?? Melemparkan pisau ke arahku??” aku tertawa saat mendengar ucapan Caleb begitu juga dengan Caleb.  Sejak, dua setengah tahun belakangan ini, aku memang tidak memakai nama panggilan FOUR lagi. Aku lebih memilih untuk menggunakan nama TOBIAS, TOBIAS EATON. Entah mengapa, aku lebih menyukai nama itu sekarang.
          
“Sudahlah! Ayo cepat ke berita yang ingin kau sampaikan padaku. Aku harus cepat-cepat. Johanna sudah menunggu ku di kantornya.” Ucapku terburu-buru.
          
“Okay, baiklah. Mungkin kau tidak akan percaya dengan apa yang kuceritakan ini. Tapi aku berani bersumpah kalau aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri.”
          
“Sudahlah Caleb, langsung ke intinya. Aku tak perlu basa-basi lagi.” Ucapku tak sabar.
          
“Baiklah. Jika itu yang kau mau. Jadi kemarin tepat disini, di Millenium Park, aku melihat,” Caleb menghentikan ucapannya. Ia tampak menunduk. Dapat kulihat ada kesedihan dimatanya. Aku pun semakin penasaran.
          
“Melihat siapa?? Ayolah Caleb! Aku tak ingin bermain-main.” Ucapku tak sabar.
          
Caleb menarik nafas panjang. “Aku melihat Beatrice. Aku melihat Beatrice, Tobias. Aku melihat adik kesayanganku, Beatrice.” Aku terkejut mendengar perkataan Caleb. Aku langsung terdiam saat Caleb menyebutkan nama itu, Beatrice. Entah kenapa, dadaku langsung terasa sesak saat mendengar nama Tris disebutkan. Dadaku sakit diselimuti dengan kesedihan tentang Tris. Aku tidak bisa mendengar ini lagi. Aku tidak bisa.
          
“Maaf Caleb. Aku harus pergi. Johanna pasti menungguku.” Aku segera beranjak dan bersiap pergi.
          
“Tunggu Tobias! Mungkin kau tak mempercayainya, tapi aku benar-benar yakin kalau aku melihat Beatrice. Sungguh Tobias, sungguh.” Ucap Caleb yakin. Mungkin aku bukan dari Candor, tapi aku bisa melihat kalau Caleb tidak berbohong. Keyakinan itu terpancar dari matanya. Tapi, entah mengapa aku masih tak mempercayainya. Aku tak yakin dengan semua hal yang ia katakan.
          
“Maaf Caleb, aku harus pergi.” Aku pun pergi meninggalkan Caleb yang masih menatapku dengan kesedihan. Aku tak bisa mempercayai nya. Aku benar-benar tak bisa mempercayainya. Walaupun aku telah mencoba bersikap baik pada Caleb, Tapi aku masih tak bisa mempercayai semua perkataanya. Bagaimana mungkin aku bisa mempercayai orang yang berani-beraninya mengkhianati keluarganya untuk sebuah faksi yang bodoh.

Segala hal tentang Caleb masih mengingatkanku pada Tris. Aku berusaha melupakan semua tentang Tris. Namun, kenangan tentangnya selalu tumbuh di benakku. Aku sebisa mungkin melanjutkan hidup tanpa nya. Aku hanya ingin melanjutkan hidupku tanpa harus menoleh ke masa lalu ku. Namun, aku tidak bisa, segala kenangan tentang Tris akan selalu melekat dalam hidupku.

***

          
Jalan raya Chicago begitu ramai. Banyak warga kota dan wisatawan berlalu-lalang di jalan utama Chicago. Aku segera mempercepat langkahku. Mungkin Johanna Reyes sudah menunggu ku dari tadi dikantorya. Aku mulai menjadi asisten Johanna sejak dua setengah tahun yang lalu. Johanna bekerja di dewan kota Chicago. Ia memiliki jabatan yang cukup penting di Chicago.
          
Aku sangat terburu-buru sehingga aku menabrak seseorang didepanku. Semua berkas-berkas penting Johanna pun jatuh berserakan di jalan dan aku terpaksa memungutinya satu persatu.
          
“Oh, maafkan aku.” Ucap wanita yang ku tabrak.
          
“Tak apa-apa. Ini bukan salahmu. Aku yang seharusnya minta maaf.” Aku terlalu sibuk memunguti berkas-berkas tersebut hingga tidak memperhatikan wanita didepanku. Wanita tersebut langsung membungkuk dan membantu ku memunguti berkas-berkas Johanna. Setelah selesai, ia menyerahkan berkas-berkas tersebut kepadaku.
          
“Terima kasih.” Akhirnya aku menatap wanita yang telah membantuku itu. Ia memiliki tubuh mungil dan kecil, sebuah selang menjulur dari kedua hidungnya dan tersambung dengan sebuah tabung oksigen, rambutnya coklat pendek seleher, dan ia memiliki mata yang sangat indah. Aku sangat terkejut saat melihatnya. Ia sangat mirip dengan seseorang yang kukenal. Ia sangat mirip dengan Tris.
          
“Okay. Tak masalah.” Ia tersenyum. Senyumnya sangat mirip dengan Tris. Segala hal dari dirinya sangat mirip dengan Tris. Aku tak mempercayainya. Benarkah semua yang kulihat ini??
          
“Hazel!!” seseorang diseberang jalan memanggil. Wanita itu langsung menolehkan kepalanya ke sumber suara tersebut. Hazel, mungkin itu namanya.
          
“Oh, Iya mom!! Aku segera datang!!” jawab Hazel, nama wanita itu. “Kurasa aku harus pergi dulu. Bye!” Hazel berjalan pergi meninggalkan ku. Aku masih menatapnya. Tak mempercayai semua yang telah kulihat ini. 

Caleb benar, semua yang dikatakannya benar. Aku percaya semua yang dikatakan Caleb. Tris seperti benar-benar kembali. Tris seperti kembali datang kedalam kehidupanku. Apakah aku bermimpi??? Jika ini benar mimpi, aku tidak akan pernah mau terbangun.


-Continue-




*N.B : Terima kasih sudah membaca ^^ Aku harap kalian suka.. Kasih kritik dan saran ya ^^ Okay??

No comments:

Post a Comment