Friday, 28 September 2018

[Book Review] Midah Simanis Bergigi Emas by Pramoedya Ananta Toer

Perjuangan Hidup Simanis




Judul Buku : Midah Simanis Bergigi Emas
Penulis : Pramoedya Ananta Toer
Genre :  Fiksi
Penerbit : Lentera Dipantara
Cetakan Ke-11 : April 2018
Tebal : 138 halaman
ISBN : 978-979-97321-7-2
Harga : Rp.50.000


"Ah, sudara, manusia ini kenal satu sama lain, tapi tidak dengan dirinya sendiri. Kalau aku mencoba mengenal diriku, tentu saja perbuatanku akan lain dengan sekira nya engkau hendak mencoba..." (Hal 122)


Midah, pada awalnya berasal dari keluarga terpandang dan beragama. Karena ketidakadilan dalam rumah, ia memilih kabur dan terhempas di tengah jalanan Jakarta tahun 50-an yang ganas. Ia tampil sebagai orang yang tak mudah menyerah dengan nasib hidup, walaupun ia hanya seorang penyanyi dengan panggilan “si manis bergigi emas” dalam kelompok pengamen keliling dari satu resto ke resto, bahkan dari pintu ke pintu rumah warga. Dalam kondisi hamil berat, Midah memang tampak kelelahan. Tapi manusia tidak boleh menyerah pada kelelahan. Hawa kehidupan jalanan yang liar dan ganas harus diarungi. Dan ujung-ujungnya Midah memang kalah (secara moral) dalam pertaruhan hidup itu. (Sinopsis dari Goodreads)

Sejujurnya saya bukanlah tipe penikmat sastra lokal. Saya lebih menikmati bacaan sci-fic terjemahan dibanding sastra lokal. Sampai pada akhirnya salah satu teman saya merekomendasikan karya Pramoedya Ananta Toer. Saya belum pernah membaca karya beliau. Tapi temen saya ini bersisi kukuh kalau karya-karya Pramoedya sangatlah patut dibaca. Sampai-sampai teman saya ini meminjamkan dua buku Pramoedya pada saya. Salah satu buku yang saya baca itu berjudul Midah Simanis Bergigi Emas. Dan ya, teman saya benar. Saya cukup puas dalam membaca salah satu karya Pram ini.

Buku ini cukup tipis dengan 138 halaman. Mungkin dalam sehari bisa langsung tuntas dibaca, tapi karena disibukan dengan tugas perkuliahan, saya baru selesai membaca nya dalam 4 hari. Awalnya saya kira buku ini berisi cerita cinta berlebihan semacamnya tapi isi buku ini lebih banyak menyorot keras nya kehidupan, khususnya kehidupan jalanan dan konflik dalam keluarga.


Latar tempat yang diambil dalam novel ini kebanyakan di daerah Ibu kota. Kita seperti dibawa untuk mengelilingi Jakarta pada jaman dahulu. Penuturan cerita dan plot nya cukup ringan. Namun saya sempat bingung dengan gaya penulis dalam menuturkan percakapan antar tokoh di novel ini karena tidak seperti penulisan biasanya. Alur cerita bisa dikatakan terlalu cepat dijabarkan.


Saya cukup salut dengan tokoh Midah. Kehidupan Midah yang awalnya merupakan anak emas Haji Abdul yang selalu dimanjakan tiba-tiba harus berputar 360 derajat. Menurut saya, Midah merupakan tokoh perempuan yang kuat. Walaupun ia banyak melalui rintangan dan kerasnya kehidupan jalanan, ia tak henti-henti nya berusaha untuk memperoleh yang terbaik bagi dirinya dan anaknya. Satu pesan moral yang saya dapat dari Midah adalah tidak ada kata terlambat untuk mengejar impian. Midah yang berimpian menjadi penyanyi keroncong terkenal harus melalui banyak rintangan dalam menggapai impiannya. Sampai pada akhirnya ia dapat menggapai impiannya. Tapi dilain hal, saya tidak terlalu suka dengan tokoh Midah ini. Saya pikir, Midah terkadang terlalu terbuai dengan cinta hingga rela mau melakukan apapun sampai pada akhirnya ia mendapatkan hal yang cukup pahit.


Tokoh Haji Abdul, bapak Midah juga meninggalkan kesan yang mendalam dari cerita ini. Haji Abdul yang terkenal sebagai sosok religius ternyata tidak sereligius kelihatannya. Dari sosok Haji Abdul kita dapat belajar bahwa janganlah menilai seseorang dari luar nya saja. Mungkin diluar, seseorang dapat terlihat religius, tetapi didalam, terdapat perilaku yang busuk dari orang tersebut.


"Mempunyai pendirian sendiri adalah berhadapan dengan pendapat umum. Bertambah kuat pendirian seseorang, bertambah banyak ia memanggil penentang." (Hal 121)



Photo belongs to andreiyaeliata. You can take it out with credits.

No comments:

Post a Comment